This is default featured slide 1 title

Belajar sampai akhir hayat.

Anak yang aktif dan cerdas

Belajar sampai akhir hayat.

This is default featured slide 4 title

Belajar sampai akhir hayat.

This is default featured slide 5 title

Belajar sampai akhir hayat.

Pages

Selasa, 13 Januari 2015

Guru Ujung Tombak Masalah Pendidikan Indonesia

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan menilai guru merupakan ujung tombak masalah pendidikan di Indonesia, sebab edukasi merupakan proses interaksi antarmanusia.
“Jika kita memperhatikan kualitas, distribusi dan kesejahteraan guru, saya rasa kita bisa menyelesaikan sebagian masalah pendidikan di Indonesia,” kata Anies dalam Diskusi Publik “Nasionalisme dan Masa Depan Pendidikan Kita” yang diadakan MAARIF Institute, di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa malam.
Dia mengatakan sistem pendidikan Indonesia saat ini belum memberikan apresiasi khusus kepada guru, padahal apresiasi terhadap guru mencerminkan bagaimana seseorang mengapresiasi masa depan bangsa.
Apresiasi terhadap guru, menurut Anies, tidak selalu harus berbicara gaji, namun juga mengenai komponen pengembangan guru itu sendiri. “Penanaman nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan yang sentralistik bisa terjadi apabila guru berkualitas,” kata dia.
Selain itu, menurut dia, perlu juga dilihat pendidikan sisi nonformal, yakni melalui orang tua. Anies menilai seringkali pendidikan oleh orang tua dilupakan.
“Orang tua adalah pendidik yang penting, sehingga orang tua ini perlu dijangkau oleh sistem pendidikan kita. Sekarang orang tua diundang datang ke sekolah biasanya untuk sumbangan, padahal sudah waktunya diundang untuk bicara bersama-sama mengenai pendidikan,” kata dia.
Dia mengatakan pembicaraan antara sekolah dengan orang tua perlu dilakukan sejak tahap sekolah dasar, sebab sekolah dasar memiliki sebaran yang sangat luas.
Sementara itu masalah-masalah lain yang tidak kalah penting, menurut dia, infrastruktur pendidikan yang saat ini masih belum mumpuni, serta materi pendidikan sekolah dasar yang dinilai bertujuan menjadikan masyarakat sebagai orang urban.
“Materi-materi di buku sekolah dasar selalu memakai contoh gedung-gedung yang tinggi, sehingga dampaknya materi dan cara mengajar berorientasi menjadikan anak didik sebagai masyarakat urban atau masyarakat perkotaan. Padahal Indonesia ini bukan hanya penduduk urban,” kata dia.
Pada kesempatan yang sama, sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo menilai sistem pendidikan yang berlangsung saat ini di Indonesia hanya sebatas mendorong “moral knowing” atau keinginan untuk mengetahui.
Seharusnya, kata dia, keinginan untuk mengetahui itu didorong ke berbagai tahapan selanjutnya antara lain “moral feeling” atau berempati, dan “moral action” atau bereaksi terhadap sebuah permasalahan.
“Jangan pada saat ada anak terlibat tawuran dan membunuh, seorang pengajar malah mempertanyakan apakah dia puas atau tidak. Seharusnya tanya apakah dia memikirkan perasaan orang tua korban, untuk mengetahui apakah si anak memiliki `moral feeling` dan `moral action` atau tidak,” kata Imam.

Nilai Dalam Pendidkan Budaya Dan Karak ter Bangsa


Sabtu, 10 Januari 2015

soal Prediksi Uan Matematika

Artikel Pendidikan

Kurikulum 2013
Dalam Tantangan
Asean Comunity 2015

Asean Comunity 2015 akan menimbulkan banyak dampak. Pasar bebas Assean itu di antaranya akan membawa konsekuensi tenaga kerja asing dari negara tetangga akan masuk dengan bebas ke indonesia. Siapkah lulusan pendidikan Indonesia menghadapi Pasar Bebas Asean?
Kualitas pendidikan di indonesia ,benar-benar di pertaruhkan dalam menghadapi Asean Community 2015. Secara eksplisit, 3 pilar utama Asean Community 2015 tidak meninggung bidang pendidikan menjadi sasaran. Namun secara implisit sektor pendidikan tidak kecil perannya menghadapi kehidupan global tersebut. Bidang pendidikan akan memiliki kontribusi besar dalam menyiapkan kualitas SDMagar mampu berkompetisi di pasar global.
Pendidikan memang memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kualitas SDM. Fungsi pendidikan tidak lain merupakan sebuah proses dimana seseorang dididik agar dapat memiliki kualitas moral dan keahlian yang nantinya memiliki kualitas moral dan keahlian yang nantinya memiliki manfaat untuk masa depan. Pendidikan menjdi jembatan bagi seseorang untuk dapat memasuki dunia kehidupan pada fase berikutnya. Oleh karena itu , pendidikan yang berkualitas sangat di butuhkan untuk meningkatkan potensi seseorang agar dapat memasuki fase kehidupan selanjutnya.
Permasalahan klasik bidang pendidikan di indonesia adalah rendahnya kualitas pendidikan di jenjang satuan pendidikan dasar dan menegah. Berbagai langkah telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan kurikulum,peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan , pengadaanbuku dan alat pelajaran ,pengadaan saranadan prasarana pendidikan ,serta peningkatan manajemen sekolah. Bagaimana hasilnya?
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan kualitas pendidikan di indonesia masih rendah. Besarnya anggaran pendidikan yang di alokasikan pemerintah,yakni 20 persen APBN, belum mampu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pendidikan di indonesia.
Survei dari program poor program student assesment untuk anak umur 15 tahun ke bawah,hasilnya menunjukan kemampuan membaca dan matematika anak indonesia di urutan 64 dari 65 negara dan posisi indonesia hanya unggul dari negara chili.
Padahal ,kualitas pendidikan sangat menentukan daya saing SDM Indonesia di tingkat dunia. Terlebih tidak lama lagi, indonesia akan menghadapi pasar bebas Asean 2015. Tantangan kedepan , daya saing SDM di ukur dari konteks Ketenagakerjaan. Saat ini kualitas tenaga kerja indonesia masih rendah, struktur psar tenaga kerja indonesia masih didominasi oleh pekerja lulusan SD.
Analisa dari bdan pendidikan dunia (UNESCO) ,sangat memprihatinkan ,kualiatas guru di indonesia berdasarkan hasil survey berada pada level 14 dari 14 negara berkembang .kualitas guru di indonesia menempati peringkat terakhir dari 14 negara berkembang di asia pasifik. Posisi tersebut menempatkan indonesia dibawah vietnam.
Berikut urutan kualitas pendidikan indonesia di mata dunia,berdasarkan hasil survei World Competitiveness Year Book dari tahun 1997 sampai tahun 2007 :
•    Tahun 1997 ; dari 49 negara yang di teliti indonesia berada di urutan39.
•    Tahun 1999;dari 47 negara yang di survei indonesia berada pada urutan 46.
•    Tahun 2002 ; dari 49 negara yang di teliti indonesia berada pada urutan 47.
•    Tahun 2007 ; dari 55 negara yang di survei ,indonesia urutan yang ke 53.
Hasil penelitian program pembangunan PBB (UNDP) :
•    Tahun 2000 kualitas SDM indonesia berada pada urutan 109 dari 174 negara,jauh di bandingkan dengan negara tetangga Singapura (24), Malaysia (61), Thailand (76) dan Philipina (77).
•    Tahun 2001 Berdasarkan data hasil penelitian di Singapura (september 2001) menempatkan sistem pendidikan nasional pada urutan 12 dari 12 negara Asia,lebih rendah dari Vietnam.
•    Tahun 2005 Posisi Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik.
Mempertanyakan kualitas pendidikan di Indonesia ,memang tidaklah naif. Dinamika proses penndidikan di Indonesia selama ini,begitu beragam dengan berbagai program yang terkesan selalu berganti-ganti. Tapi, begitulah sebuah fakta proses pendidikan di indonesiaberlangsung dalam upaya mencapai kualitas pendidikan yang terbaik  pendidikan yang berkualiatas di pengaruhi oleh faktor siswa,guru,kurikulum,sarana dan prasarana, pengelolaan dana,supeervisi dan monitoring,serta hubungan sekolah dan masyarakat.
Faktor-Faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1.    Siswa
Faktor yang mempengaruhi ada 2 yaitu kemampuan dan lingkungan. Kemampuan artinya secara jasman dan rohani mampu untuk mengikuti sistem pembelajaran. Baik dan tidaknya lingkungan siswa sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembanganya. Sedangkan lingkungan tersebut adalah lingkungan sosial,ekonomi dan budaya seperti keluarga dan lebih luas lagi.
2.    Guru
Faktor yang mempengaruhi yaitu kemampuan ,latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, bahan belajar, kondisi sosialekonomi, motivasi kerja,komitmen,disiplin dan kreatifitas.
3.    Kurikulum
Kurikulum menurut UU No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (19) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan dan pengaturan mengenai tujuan ,isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pengembangan kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan pengembangan KBK yang telah di rintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap,pengetahuan,dan ketrampilan secara terpadu.
4.    Sarana dan Prasarana
Untuk mendapatkan kelancaran dalam proses belajar mengajar yang telah di rencanakan , maka sarana dan prasarana harus lengkap. Saran dan Prasarana tersebut meliputiAlat peraga,Laboratorium,perpustakaan,ruang ketrampilan,ruan Uks dan lain-lain.
5.    Pengelola Sekolah
Pengelola sekolah meliputi: pengelolaan kelas,pengelolaan guru.pengelolaan siswa,peningkatan tata tertib.
6.    Proses Belajar Mengajar
Meliputi : penguasaan materi,menggunakan metode pengajaran,penampilan guru,pendayagunaan alat.
7.    Pengelolaan Dana
Meliputi : perencanaan anggaran ,penggunaan dana,laporan dan pengawasan.
8.    Supervisi dan Monitoring:
Kepala sekolah ,di samping sebagai administratoryang pandai mengatur dan bertanggung jawab tetntang kelancaran jalannya sekolah sehari-hari,juga adalah seorang supervisor. Sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah saja tapi semua pihak yang terlibat dalam sebuah lembaga pendidikan.
9.    Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Meliputi: hubungan sekolah dengan orang tua,dengan instansi pemerintah,dengan dunia usaha,dengan pendidikan lainnya.
Sekolah sebagai institusi pendidikan yang merupakan tempat proses pendidikan di lakukan,memiliki sistem yang komplek dan dinamis. Kegiatan di sekolah adalah mengelola SDM yang diharapkan menghasilkan lulusan berkualitas tinggi dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Sehingga lulusan sekolah diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pembangunan bangsa.
Kurikulum 2013 ini dengan basis kreatifitas adalah langkah tepat untuk menciptakan generasi berikutnya yang mampu berinovasi,bahkan basis kreatifitas ini juga bisa di dorong untuk menciptakan generasi muda entrepreneur.
Indonesia membutuhkan generasi yang kretif dan inovatif, karena itu kurikulum pendidikan berbasis kreatifitas ini adalah langkah tepat untuk menuntaskan persoalan-persoalan lainnya di bidang pendidikan.
Hingga sekarang ini, wajib belajar yang di terapkan di indonesia masih memiliki delapan juta penduduk berumur 15 tahun yang belum melek huruf. Sebanyak 80 persen penduduk hanya menyelesaikan pendidikan dasar dan hanya tujuh persen penduduk yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Padahal sebagian besar dunia kerja sekarang ini menginginkan lulusan perguruan tinggi .Akibatnya lowongan pekerjaan di ambil oleh penduduk negara tetangga. Karenanya , peningkatan kualitas pendidikan bagi usia produktif harus menjadi prioritas utama. Memang mahal biayanya tapi kalau tidak dilakukan sekarang kita akan ketinggalan lagi kedepan dan kedepannya lagi .



PKM



RINGKASAN

    Salah stu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini tetap menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola. Sementara setiap hari pabrik memproduksi kantong plastik dan berakibat pada penumpukan sampah yang tidak dapat terurai.
    Kota Madiun merupakan kota transit pada jalur selatan yang menghubungkan kota-kota di Jawa Timur,Jawa Tengah dan Jawa Barat seperti Surabaya, Jombang, Madiun, Solo, Yogyakarta sampai Jakarta, sehingga kota madiun cocok dan menarik untuk mengembangkan sektor industri, perdagangan ,jasa maupun angkutan. Banyak penumpang yang singgah di Madiundengan membawa perbekalan terutama air mineral. Maka tidak di pungkiri bahwa banyak botol plastik yang di buang.
    Hal tersebut memotivasi kami untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan sampah dibutuhkan alternatif yang salah satunya ialah pemanfaatan atau daur ulang. Berkaitan dengan hal tersebut kami akan memanfaatkan sampah plastik berupa botol bekas untuk dijadikan sebagai ornamenpenghias rumah yakni lampu tidur. Di daerah inovasi ini di harapkan sampah akan berkurang serta berdaya guna dan memiliki nilai jual yang tentunya memberi manfaat bagi semua pihak khusunya mahasiswa untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan.









BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Kota Madiun merupakan kota transit pada jalur selatan yang menghubungkan kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat seperti Surabaya, Jombang, Madiun, Solo, Jogjakarta sampai DKI Jakarta, sehingga kota madiun cocok dan menarik untuk mengembangkan sektor industri, perdagangan jasa maupun angkutan. Banyak penumpang yang singgah di Madiun dengan membawa perbekalan terutama air meniral. Maka tidak dipungkiri bahwa banyak sampah  botol plastik yang dibuang.
Berdasarkan data Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Madiun tahun 2012 lalu, sampah yang terangkut sebanyak 105 meter kubik, tahun 2013 hingga April ada kenaikan volume sampah sekitar 5% setiap harinya. Hal itu dikarenakan penggunaan barang berlebihan sehingga memicu banyaknya sampah baik dari perumahan maupun dari pasar-pasar tradisional seperti di Dolopo, Jiwan hingga Caruban. Akibatnya, banyak sampah yang menumpuk dan terbengkalai.
Untuk menyelesaiakan permasalahan yang berkaitan dengan sampah dibutuhkan suatu alternatif yang salah satunya ialah pemanfaatan atau daur ulang. Berkaitan dengan hal tersebut kami akan memanfaatkan sampah plastik berupa botol bekas untuk dijadikan sebagai ornamen penghias rumah yakni lampu tidur. Di daerah Madiun sendiri masih minim sekali kuantitas pengrajin bahkan penjual lampu tidur. Dengan inovasi ini diharapkan sampah akan berkurang serta berdaya guna dan memiliki nilai jual yang tentunya memberi manfaat bagi semua pihak khususnya mahassiswa untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan.
Lampu tidur ini kami pasarkan dengan cara manual. Artinya mempromosikan dari mulut ke mulut dan untuk promosinya melalui sosial media dan brosur yang kami sebarkan kepada masyarakat.

B.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat di tarik rumusan masalah yaitu :
1.    Bagaimanakah proses pembuatan lampu tidur dari bahan mentah sampai menjadi produk jadi?
2.    Bagaimanakah strategi pemasaran produk lampu rame – rame ?
   
C.    TUJUAN
Adapun tujuan dari program ini adalah:
1.    Mengetahui proses pembuatan lampu tidur dari bahan mentah sampai menjadi produk jadi.
2.    Mengetahui strategi pemasaran produk lampu rame – rame.
3.    Merintis jiwa kewirausahaan mahasiswa.

D.    LUARAN YANG DI HARAPKAN
Adapun lauaran yang di hasilkan dari program kreativitas mahasiswa ini adalah :
1.    Produk berupa lampu tidur, spesifikasi produknya adalah
a.    Nama produk    : Pulang Rame – Rame ( lampu murah meriah )
b.    Harga        : Rp
c.    Berat         : 0,5 Kg
d.    Warna        : warna warni


E.    KEGUNAAN
Adapun kegunaan dari program ini adalah:
1.    Bagi lingkungan sosial
a.    Membantu menanggulangi sampah di kota Madiun
b.    Membantu menanggulangi masalah pengolahan sampah di Madiun.
c.    Menumbuhkan sikap lebih perduli terhadap lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan lebih menghargai sampah.
2.    Bagi mahasiswa pelaksana
a.    Memberikan kesempatan untuk mengembangkan wawasan dalam berinteraksi sosial.
b.    Mengembangkan kemampuan dalam bekerja sama, baik dengan anggota tim, pendamping maupun dengan pemerintah.
c.    Menambah pendapatan mahasiswa.



























BAB 2
GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA

1.    Ide produk
Usaha pembuatan lampu tidur dari botol ini terinspirasi dari banyaknya sampah botol plastik tempat pembuangan akhir, kabupaten Madiun yang belum dimanfaatkan oleh masyarakat. Bertolak dari hal tersebut kami mencoba membuatnya menjadi lampu tidur dari botol yang bernilai ekonomis.
2.    Deskripsi Usaha
Lokasi bisnis lampu tidur ini nantinnya akan dilakukan di sekitar Pasar Kojo Madiun. Berdasarkan hasil survey yang kami lakukan dari 100% penjual lampu tidur, 65% dinyatakan berhasil. Hal ini menunjukan bahwa lampu tidur memiliki peluang besar untuk dijadikan suatu inovasi wirausaha yang baru. Wirausaha baru di bidang lampu tidur ini sangat profesional dan kreatif untuk dijadikan usaha baru karena produk tersebut menggunakan botol bekas yang dapat mengurangi penumpukan limbah sampah botol plastik yang ada di daerah Madiun. Botol bekas ini disulap sedemikian rupa agar lebih menarik sehingga dapat menarik minat konsumen untuk membelinya. Oleh karena itu lampu tidur ini merupakan bagian industri yang mempunyai peluang bisnis dan bisa juga menjadi lapangan pekerjaan yang bisa merekrut masyarakat sekitar.
Sebelum bisnis ini dijalankan, kami melakukan survey pasar sehingga diketahui lampu tidur apa yang disukai oleh masyarakat. Sehingga kami dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan produk kami. Untuk itu kami rancang strategi pemasaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi usaha kami. Agar bisnis terus berkembang kami melakukan inovasi dan kreativitas dalam mengembangkan produk kami. Untuk memperoleh botol bekas ini kami menjalin kerjasama dengan mitra pengepul barang bekas.
Di era globalisasi saat ini, strategi pemasaran yang murah sekaligus efektif adalah melalui internet yaitu melalui facebook, twitter maupun BBM. Disamping itu pemasaran juga dilakukan dengan memasang iklan berupa brosur dan pamflet dipinggir jalan serta radio dan televisi. Kami juga menjalin kerjasama dengan mitra untuk memperoleh bahan baku botol bekas dan untuk menjual hasil produk yang dihasilkan.
3.    Tahap pemasaran yang telah dilakukan
a.    Strategi produk
Strategi produk yang telah dilakukan adalah dengan mengambil bahan baku dari pemasok botol bekas dan juga yang membuat lampu tidur sendiri berdasarkan informasi dari internet dan televisi, serta hasil kreatifitas dan inovasi kami.
b.    Strategi harga
Strategi harga yang telah dilakukan adalah menyesuaikan dengan harga pasar. Rata-rata harganya Rp. 35.000,- dalam bentuk jadi.
c.    Strategi distribusi dan promosi
Strategi distribusi yang telah kami lakukan adalah manual. Artinya menjual dengan hanya menunggu pelanggan memesan atau datang langsung dan untuk promosinya melalui internet dan dari mulut ke mulut, melalui pamflet dan brosur yang kami sebarkan kepada masyarakat.
4.    Analisis Pemasaran Produk
Strategi pemasaran yang kami gunakan adalah:
a.    Strategi produk
Kelebihan dari strategi produk yang telah dilakukan adalah mengutamakan kualitas produk. Produk lampu tidur ini telah dibuat dengan memperhatikan pernak-pernik penghiasnya sedetail mungkin. Cat pewarna yang digunakanpun dipilih dari cat dengan kualitas terjamin sehingga tidak mudah pudar.
b.    Strategi distribusi
Kekurangan dari strategi distribusi yang telah dilakukan masih menggunakan sistem manual sehingga kurang efektif untuk dijalankan. Strategi distribusi yang akan dijalankan adalah dengan membuka beberapa cabang di berbagai tempat, seperti di sekitar kampus IKIP PGRI Madiun, alun-alun Madiun, Ponorogo dan Magetan, termasuk juga di dunia mainan. Selain itu, akan ada sistem order delivery bagi konsumen yang memesan dalam jumlah yang banyak yang berada di daerah. Dengan adanya sistem order delivery ini akan memberikan kemudahan dan kepuasan bagi konsumen.
b.    Strategi harga
Strategi harga yang dilakukan berdasarkan harga pasar, harga lampu tidur yang ditetapkan setara dengan harga pasar dengan tetap menjaga kualitas lampu tidur. Akan diberikan diskon khusus untuk pembelian partai atau lebih dari 100 buah.
c.    Strategi promosi
Kekurangan dari strategi promosi yang telah dilakukan adalah kurang luasnya wilayah promosi karena hanya dari mulut ke mulut. Publikasi produk untuk promosi dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan unit kewirausahaan IKIP PGRI Madiun. Lembaga ini merupakan semacam inkubator bisnis bagi karya mahasiswa IKIP PGRI Madiun yang layak untuk dikomersialisasikan. Promosi penjualan yang akan dilakukan, yaitu melalui via internet seperti facebook dan twiter karena kita memanfaatkan teknologi yang ada untuk mempermudah promosi.
5.    Analisis SWOT
1.    Strength
a.    Produk lampu ini menggunakan bahan bekas berupa botol plastik bekas.
b.    Harganya terjangkau.
c.    Usaha ini belum ada di Kabupaten Madiun.
2.    Weakness
a.    Jaringan pemasaran yang belum luas.
3.    Opportunity
a.    Harga produk yang terjangkau.
b.    Produk ini berbeda dari produk lainya karena menggunakan botol bekas.

4.    Threat
a.    Masih terikat kuat dengan jadwal kuliah yang padat.
b.    Modal awal yang dibutuhkan cukup besar sementara dana belum
terpenuhi.



























BAB 3
METODE PELAKSANAAN

Metode yang digunakan dalam PKM-K dijabarkan melalui prosedur sebagai berikut ;
1.    Konsultasi dengan dosen pendamping tentang proposal PKM-K.
2.    Mencari bahan baku yang akan dibuat menjadi lampu tidur.
3.    Observasi sasaran pemasaran produk di pasar Koja Kabupaten Madiun.
4.    Membuat rancangan kegiatan tentang cara pembuatan botol bekas menjadi lampu tidur adalah :
Lampu Rame – Rame (Lampu Tidur Murah Meriah)
Alat :

•    Alat pemotong
•    Obeng
•    Stop kontak
•    Alat semprot cat
•    Rakdisplay
Bahan :

•    Cat minyak
•    Botol bekas
•    Lampu
•    Pitting
•    Pot/alas lampu hias
•    Kabel

Langkah Pembuatan :
1.    Potonglah bagian bawah botol.
2.    Kemudian bagian tengah botol di gunting kira – kira dengan lebar 1 cm.
3.    Setelah bagian tersebut selesai lalu di lengkungkan.
4.    Rangkai kabel dengan piting.
5.    Masukan botol bagian atas ke piting di rekatkan menggunakan lem.
6.    Setelah kering dan kuat kemudian pasang lampu tersebut.
5.    Evaluasi program.





BAB 4
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Jadwal Kegiatan
No    Kegiatan Penelitian    Bulan ke-1    Bulan ke-2    Bulan ke-3    Bulan ke-4
        1    2    3    4    1    2    3    4    1    2    3    4    1    2    3    4
1.    Konsultasi pelaksanaan kegiatan ke dosen pembimbing                                                               
2.    Pengadaan alat dan bahan                                                               
3.    Pelaksanaan kegiatan dan pemasaran produk                                                               
4.    Evaluasi kegiatan dan penyusunan laporan akhir                                                               



4.2 Anggaran Biaya Lampu Tidur
1.    Anggaran Biaya
a.    Pelaksanaan dan Operasional Awal Pembuatan Lampu Tidur
Uraian    Jumlah    Harga satuan (Rp.)    Besarnya (Rp.)
Scan proposal    10 lbr    2.000    20.000
Print proposal     30 lbr    500    15.000
Jilid proposal    3 proposal    5.000    15.000
Total    50.000

b.    Biaya Habis Pakai (1 bulan)
Uraian    Jumlah    Harga satuan (Rp.)    Besarnya (Rp.)
Cat minyak    24 kaleng    35.000    840.000
Botol bekas    300 buah    5.00    150.000
Lampu    300 buah    5.000    1.500.000
Pitting    300 buah    2.500    750.000
Pot/alas lampu hias    300 buah    7.500    2.250.000
Kabel    300 meter    5.000    1.500.000
Total    6.990.000











c.    Biaya Perlengkapan Penunjang
Uraian    Jumlah    Harga satuan (Rp.)    Besarnya (Rp.)
Alat pemotong    2 buah    7.500    15.000
Obeng    1 set    50.000    50.000
Stop kontak    1 set    15.000    15.000
Alat semprot cat    2 set    30.000    60.000
Rak display    1 set    150.000    150.000
Total    290.000








d.    Total Biaya
No.    Uraian    Besarnya (Rp.)
1.    Pelaksanaan operasional dan awal pembuatan    50.000
2.    Biaya habis pakai (1 bulan)                         6.990.000
3.    Biaya peralatan penunjang    290.000
    Total    7.330.000

2.    Biaya Produksi
Biaya pembuatan lampu tidur per buah    Rp                5.000,-
Total produksi lampu tidur per buah    Rp              25.000,-
Harga jual per buah    Rp 35.000,-Produksi 1 (satu) hari dengan asumsi 10 buah    Rp         350.000,-
Nilai jual dalam satu bulan 300 buah    Rp    10.500.000,-

3.    Perhitungan Laba-Rugi
a.    Alat pemotong dan alat semprot diasumsikan memiliki nilai ekonomis 2 tahun (24 bulan), maka nilai penghasilan Rp 75.000,-/24 per produksi (1 bulan) adalah Rp = Rp 3.125,- dibulatkan menjadi Rp 3.200,-
b.    Proyeksi laba per bulan Rp (10.500.000) – ((300 x 25.000) + (300 x 5.000 )) = Rp 1.500.000,-.


LAMPIRAN – LAMPIRAN
Lampiran 1
BIODATA KETUA KELOMPOK

1.    Nama                : Erianto
2.    NPM                : 12141.336
3.    Tempat, Tanggal Lahir        : Gunungkidul, 15 Februari 1994
4.    Fakulas/ Jurusan            : FIP/PGSD
5.    Perguruan Tinggi            : IKIP PGRI Madiun
6.    Alamat Kampus        : Jl. Setiabudi No. 85 Madiun Jawa Timur
          Telp. (0351) 462986
7.    Alamat Rumah        : Jl. Munggut Asri Blok B.O 25 Munggut,
              Kec. Wungu Kab. Madiun
8.    Nomor Telepon/Hp        : 085 649 166 687
9.    Waktu Untuk Kegiatan PKM-K    : 5 jam/minggu
10.    Riwayat Pendidikan        :
No    Jenjang    NamaLembaga    Tahun
1    SD    SDN Paliyan 2    2000 – 2006
2    SMP    SMPN 1 Paliyan    2006 – 2009
3    SMA    SMAN 1 Playen    2009 – 2012
11.    Pengalaman Organisasi        :
No    Tahun    Organisasi    Jabatan
        -   



Lampiran 2
BIODATA ANGGOTA KELOMPOK

1.    Nama                : Diki Nurul Islami
2.    NPM                : 12141.221
3.    Tempat, Tanggal Lahir        : Ngawi, 13 April 1994
4.    Fakulas/ Jurusan            : FIP/PGSD
5.    Perguruan Tinggi            : IKIP PGRI Madiun
6.    Alamat Kampus        : Jl. Setiabudi No. 85 Madiun Jawa Timur
          Telp. (0351) 462986
7.    Alamat Rumah        : Desa Pengkol Kec. Mantingan Kab. Ngawi
8.    Nomor Telepon/Hp        : 085 649 166 692
9.    Waktu Untuk Kegiatan PKM-K    : 4 jam/minggu
10.    Riwayat Pendidikan        :
No    Jenjang    NamaLembaga    Tahun
1    SD    SDN Kawu 3    2000 – 2006
2    SMP    SMPN 1 Kedunggalar    2006 – 2009
3    SMA    SMAN 1 Kedunggalar    2009 – 2012
11.    Pengalaman Organisasi        :
No    Tahun    Organisasi    Jabatan
        -   


Lampiran 3
BIODATA ANGGOTA KELOMPOK

1.    Nama        : Desy Cahyaningtiyas
2.    NPM        : 12141223
3.    Tempat, Tanggal Lahir        : Madiun, 16 Desember 1993
4.    Fakultas/ Jurusan        : FIP / PGSD
5.    Perguruan Tinggi        : IKIP PGRI Madiun
6.    Alamat kampus        : Jl. Setiabudi No. 85 Madiun Jawa Timur
          Telp. (0351) 462986
7.    Alamat Rumah               : Desa Klecorejo kec.Mejayan Kab. Madiun
8.    Nomor telepon/Hp              : 085 655 604 614
9.    Waktu untuk kegiatan PKM-K    : 4 jam/minggu
10.    RiwayatPendidikan:
No    Jenjang    NamaLembaga    Tahun
1    SD    SDN Klecorejo 01    2000 – 2006
2    SMP    SMPN 2 Mejayan    2006 – 2009
3    SMA    SMAN 2 Mejayan    2009 – 2012
No.    Tahun    Organisasi    Jabatan
        -   
11.    Pengalaman Organisasi:









SURAT KETERANGAN KERJASAMA

Yang bertanda tangan dibawah ini :
1.    Nama        : Dyta Prasanti
    Jabatan        : Mahasiswa
   Alamat    : Ds. Teguhan RT 24 / RW 06 Kecamatan Jiwan
  Kabupaten Madiun
Selanjutnya disebut sebagai pihak pertama
2.    Nama        : Tatik
    Jabatan        : Pengepul botol bekas
    Alamat        : Jln. Gang buntu belakang pasar besar Madiun

Selanjutnya disebut sebagai pihak kedua
Dengan ini pihak pertama menyatakan permohonan kerjasama untuk memasok botol bekas sebagai bahan baku pembuatan lampu “ Pulang rame-rame “  untuk meningkatkan minat masyarakat dalam mengolah limbah plastik terutama limbah botol bekas agar memiliki nilai jual yang tinggi dan dapat mengurangi limbah plastik yang ada di sekitar jln. Gang buntu belakang pasar besar Madiun.
Selanjutnya pihak kedua menyatakan kesediaan untuk bekerjasama dalam program pembuatan lampu “ Pulang rame-rame “  untuk meningkatkan minat masyarakat dalam mengolah limbah plastik terutama limbah botol bekas agar memiliki nilai jual yang tinggi dan dapat mengurangi limbah plastik yang ada di sekitar jln. Gang buntu belakang pasar besar Madiun.
     Bersama ini dinyatakan bahwa diantara kedua belah pihak tidak mempunyai ikatan keluarga dalam bentuk apapun. Surat pernyataan kesediaan kerjasama ini dibuat tanpa adanya unsur paksaan dan penuh kesadaran serta tanggung jawab saling membantu dalam upaya meningkatkan kreatifitas masyarakat.

Pihak kedua


TATIK



WAGIJO, S.Pd
NIP. 195208121974121005    Madiun, 4 Oktober 2013
Pihak pertama

ERIANTO
NPM.14141336


DYTA PRASANTI
NPM. 07411.071

Artikel pendidikan



DILEMA KURIKULUM 2013

Sudah 2 tahun berjalan akhirnya Kurikulum 2013 dievaluasi. Untuk sementara, Kurikulum 2013 ini hanya akan diterapkan di 6.221 sekolah yang sejak Juli 2013 sudah menjalani uji coba. Sisanya kembali ke Kurikulum 2006 sampai betul-betul siap. A win-win solution.
Keputusan di pengujung tahun ajaran ini tak mudah karena akan mengubah seluruh proses pembelajaran di sekolah. Namun, menurut tim evaluasi Kurikulum 2013 atau sering disingkat K-13, keputusan ini pilihan kompromis mengakomodasi pandangan pro dan kontra mengenai K-13, meski ini kemudian dikoreksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. ”Ini bukan masalah kompromi. Ini demi kepentingan anak bangsa kita.”Ada tiga pilihan dari tim evaluasi K-13. Pertama, penghentian total K-13. Kedua, sekolah yang sudah tidak bermasalah dengan K-13 silakan lanjut, tetapi sekolah yang belum silakan kembali ke Kurikulum 2006. Ketiga, tetap jalan seperti sekarang untuk semua sekolah, tetapi dengan evaluasi kekurangan. Pilihan jatuh pada penghentian K-13 di semua sekolah dan konsentrasi hanya pada 6.221 sekolah.
Pilihan ini memunculkan pertanyaan lanjutan. Jika ada sebagian sekolah memakai K-13 dan sebagian lagi pakai Kurikulum 2006, lalu bagaimana dengan proses evaluasi hasil belajar murid? Standar evaluasi seperti apa yang dibutuhkan? Apakah ujian nasional masih relevan dengan duo kurikulum yang ada? Masalah-masalah ini barangkali masih dibahas tim evaluasi K-13.
Bagi yang mengikuti perkembangan K-13 dan melaksanakannya di lapangan, selama satu tahun terakhir ini implementasi K-13 diwarnai keluh kesah dan protes di mana-mana. Utamanya, pada masalah ketidaksiapan guru dan ketiadaan buku pegangan. Ketidaksiapan guru karena pelatihan terlalu singkat dan kurang praktik lebih mirip penataran. Ketiadaan buku pegangan urusannya lebih pelik karena terkait dengan pihak ketiga, yakni penyedia buku atau percetakan. Intinya, segala keruwetan pada implementasi bermula karena serba terburu-buru.
Nasi belum terlalu jadi bubur. Masih ada waktu memperbaiki atau menyempurnakan K-13. Butuh solusi konkret dan cepat dari Kemendikbud. Sudahi saja dulu sikap menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Tak perlu juga membongkar semua kebijakan Mendikbud sebelumnya. Lanjutkan saja yang bagus dan perbaiki yang masih kurang.
Mau ke mana?
Mumpung sedang dievaluasi, ada baiknya pemerintah sekalian menyempurnakan K-13, dari awal. Itu dimulai dengan gagasan atau cita-cita harapan arah pembangunan bangsa dan ”wujud” generasi yang hendak dilahirkan untuk mencapai harapan itu. Jika hal mendasar itu sudah jelas dan rencana pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang juga terang, akan jelas pula jenis kurikulum yang dibutuhkan.
Pada dasarnya, kurikulum dibuat sesuai perkembangan zaman. Ini setidaknya sudah dilakukan dalam K-13. Teorinya, K-13 menekankan pembelajaran aktif dengan materi tematik integratif dan pendekatan ilmiah.
Dalam dua tahun terakhir, sebagian guru, terutama di kota, mengakui anak-anak lebih senang belajar dengan cara ini karena tidak membosankan. Suasana kelas menjadi lebih hidup. Namun, sebagian guru masih kesulitan karena belum terbiasa.Guru-guru yang ada di Karawang dan Pandeglang yang relatif dekat dengan ibu kota Jakarta saja masih terbata-bata dalam mengajar. Pelatihan 52 jam tak cukup. Perlu pelatihan lanjutan yang disesuaikan dengan kelemahan guru masing-masing.
Pelatihan model ini sudah masuk dalam agenda rencana Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendikbud. Berbekal hasil uji kompetensi guru yang dilakukan 2-3 tahun lalu, setiap guru dijanjikan akan mendapat pelatihan yang didesain khusus sesuai kebutuhan dan yang menjadi titik lemah setiap guru. Catatan atau rapor guru ini sudah ada di Kemendikbud dan tinggal ditindaklanjuti saja.
Guru merasa belum bisa itu wajar karena bentuk pelatihan guru dinilai oleh pelatih guru Itje Chodidjah terlalu sederhana dan ”seragam” tanpa memerhatikan perbedaan kualitas guru, murid, sekolah, dan tradisi atau kekayaan lokal. Guru tidak dilatih cara mengelola ruang kelas sesuai jenis sekolahnya. Pelatihan guru yang ideal seharusnya kontekstual sesuai karakter daerah meski materinya sama. ”Ingat lho, kondisi dan latar belakang guru itu berbeda-beda,” ujarnya.Pelatihan yang benar disertai pendampingan materi dan cara mengajar yang rutin lambat laun akan bisa mengubah pola pikir guru. Sudah bukan zamannya lagi guru yang kaku. Masalahnya, menurut Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Sunaryo Kartadinata, sejauh ini belum ada model pelatihan yang mampu mengubah pola pikir guru. Ini bisa diperbaiki sambil jalan dan sekaligus solusi jangka panjang seperti memperbaiki ”pabrik guru”, yakni lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
Persoalan pendidikan tak akan pernah habis. Dengan terbatasnya waktu, kita harus bergegas menentukan prioritas dan bergerak. Saatnya menyingsingkan lengan baju dan bekerja. Anak-anak bangsa ini menanti karya nyata